Konservasi Musuh Alami Hama dengan Penanaman Tanaman Pinggir

Sejak tahun permulaan pelaksanaan program intensifikasi pangan melalui gerakan revolusi hijau, masalah hama sebagian besar ditanggulangi dengan berbagai jenis formulasi pestisida organik sintetik. Orientasi pemerintah pada waktu itu tertumpu pada peningkatan hasil sebanyak banyaknya, tanpa mem-perhatikan dampak negatif terhadap lingkungan. Pada saat dicanangkannya program intensifikasi pangan melalui program nasional BIMAS, pestisida telah dimasukkan sebagai paket teknologi yang wajib digunakan petani peserta. Bagi petani yang tidak menggunakan pestisida, oleh pemerintah dianggap tidak layak sebagai penerima bantuan BIMAS. Akibatnya, mau tidak mau petani dirangsang menggunakan pestisida organik sintetik. Bahkan pada waktu itu, pemerintah bermurah hati memberi subsidi pengadaan pestisida hingga mencapai 80 persen, sehingga harga pestisida di pasaran menjadi sangat murah. Tidak itu saja, termasuk jenis pestisida yang digunakan, hingga keputusan penggunaannya (jadwal aplikasi) diatur oleh pemerintah.

Jenis pestisida yang dianjurkan digunakan pada waktu itu umumnya adalah pestisida yang berdaya bunuh berspektrum luas vs pestisida selektif, yaitu mampu membunuh sebagian besar organisme, termasuk organisme berguna seperti musuh alami ham dan organisma bukan target lainnya yang hidup berdam-pingan dengan organisme pengganggu tanaman. Tidak seimbangnya agroekosistem ini menyebabkan terjadinya “resurgensi” (meledaknya populasi hama sebagai akibat terbunuhnya/tertekannya populasi musuh alami/ natural enemies), terutama predator dan parasitoid sehingga musuh alami tersebut tidak dapat berperan aktif dalam menekan populasi hama, selain itu juga akan menyebabkan terjadinya migrasi ke habitat pinggir (sekitamya) yang lebih cocok untuk kehidupan kedua musuh alami hama tersebut. Ekosistem pertanian tidak hanya terdiri atas lahan pertanaman budidaya tetapi juga termasuk lahan-lahan pinggir yang ditumbuhi vegetasi liar yang terdapat di sekitamya. Seringkali  vegetasi liar dianggap sumber organisme pengganggu tanaman oleh petani, sehingga petani selalu mem-bersihkan secara periodik, padahal justru keberadaan vegetasi liar tersebut akan dapat memelihara keaneka-ragaman organisme yang menguntungkan. Inilah yang disebut dengan konsep pertanian kotor (dirty farming), pada hal vegetasi liar yang terdapat di sekitar lahan pertanaman dapat meningkatkan populasi musuh alami yang pada gilirannya dapat menekan populasi hama pada lahan pertanaman.

=======================================================

SILAHKAN MILIKI BUKU INI:

Harga Buku Rp. 100.000,-

      • Untuk Pembelian buku dalam bentuk Hard Copy, dapat dipesan secara online dan akan diantarkan ke tempat pembeli,
        • pemesanan via email: pustakabangsa05@gmail.com
        • atau hubungi langsung marketing kami : 082341456620 (AL)
        • Kirim alamat jelas pembeli
        • Transfer ke Rekening Bank Mandiri  : 161-0-00474303-0 a.n. Pustaka Bangsa
        • tunggu diantarkan langsung paling lambat 3 hari
      • Jika terkendala / Kesulitan, silahkan hubungi kami (kontak ada di halaman beranda)

Terimakasih.

Scroll to Top
Scroll to Top