Arthropoda pada Ekosistem Tanaman Cabai

Arthtropoda merupakan filum terbesar dari animalia di ekosistem, arthropoda dicirikan dengan tubuhnya tersegmentasi, tubuhnya berbentuk simetris bilateral, terdapat ruas-ruas pada tungkai dan bagian tubuh lainnya. Pada setiap ruas terdapat sepasang appendage atau embelan (bagian tubuh yang menonjol dan mempunyai ujung yang bebas bergerak misalnya bagian anggota tubuh sebagai alat gerak, alat makan dan alat indra) dan tubuhnya terbungkus oleh zat chitin (Yuliprianto, 2010). Keberadaanya dapat ditemui dimana saja, didalamnya termasuk ada serangga, laba-laba, kutu, lipan dan collembola.  Arthropoda dalam ekosistem memiliki peran sebagai hama, predator, dekomposer, penyerbuk, parasitoid, dan parasit.

Cabai (Capsicum annuum L.) merupakan tanaman perdu dari famili terong-terongan. Cabai berasal dari benua Amerika tepatnya daerah Peru dan menyebar ke negara-negara benua Amerika, Eropa dan Asia termasuk negara Indonesia.  Tanaman cabai yang umum dikenal oleh masyarakat yakni cabai besar, cabai keriting, cabai rawit dan paprika. Cabai rawit (Capsicum frutescens L.) adalah salah satu sayuran penting di dunia yang dibudidayakan sebagai komoditas unggulan hortikultura (Sulandari, 2004, Pramarta, 2014). Berdasarkan undang-undang nomor 13 tahun 2010 tentang hortikultura disebutkan bahwa cabai rawit termasuk tiga komoditas strategis Nasional selain cabai besar dan bawang merah (BPS, 2014). Cabai digolongkan sebagai sayuran maupun bumbu, tergantung bagaimana cabai digunakan. Sebagai bumbu, buah cabai yang pedas sangat populer di Asia Tenggara sebagai penguat rasa makanan.

Cabai (Capsicum sp.) salah satu hasil komoditi hortikultura yang masuk kedalam tiga komoditas strategis Indonesia bersama dengan bawang merah. Produksi cabai untuk daerah Nusa Tenggara Barat pada tahun 2019 mengalami penurunan, jumlah produksi cabai rawit pada tahun 2019 sebanyak 164,77 ribu ton atau turun sebesar 21,73% dibandingkan tahun 2018 yang mencapai 210,53 ribu ton. Hal yang sama juga terjadi pada produksi cabai besar, tahun 2019 jumlah produksi sebanyak 17,679 ribu ton turun 26.33% dibandingkan pada tahun 2018 yang mencapai 23,998 ribu ton (Kementan RI, 2020). Kendala produksi cabai biasanya disebabkan oleh faktor cuaca yang kerap berubah serta serangan dari Hama dan Penyakit tanaman. Serangan hama pada tanaman cabai tidak bisa dihindari, baik pada fase vegetatif maupun generatif serangan hama pada tanaman cabai terbilang cukup tinggi. Hama-hama penting pada tanaman cabai diantaranya lalat buah, kutu kebul (Planococcus citri), kutu daun (Myzus percisae), ulat grayak (Spodoptera litura), Ulat tanah (Agrotis Ipsilon) (Cahyono, 2017). Tingkat serangan yang disebabkan oleh hama-hama tersebut sering menjadi penyebab menurunnya produksi cabai dan perlu dilakukan pengendalian untuk mengurangi tingkat kerusakan dan mampu mencegah terjadinya penurunan produksi cabai.

=======================================================

SILAHKAN MILIKI BUKU INI:

Harga Buku Rp. 100.000,-

      • Untuk Pembelian buku dalam bentuk Hard Copy, dapat dipesan secara online dan akan diantarkan ke tempat pembeli,
        • pemesanan via email: pustakabangsa05@gmail.com
        • atau hubungi langsung marketing kami : 082341456620 (AL)
        • Kirim alamat jelas pembeli
        • Transfer ke Rekening Bank Mandiri  : 161-0-00474303-0 a.n. Pustaka Bangsa
        • tunggu diantarkan langsung paling lambat 3 hari
      • Jika terkendala / Kesulitan, silahkan hubungi kami (kontak ada di halaman beranda)

Terimakasih.

Scroll to Top
Scroll to Top