TRANSFORMASI EKONOMI DAN SOSIAL BUDAYA TINJAUAN EMPIRIS PERUBAHAN MASYARAKAT DI DAERAH LINGKAR TAMBANG BATU HIJAU

KATA PENGANTAR

Perubahan sosial merupakan suatu keniscayaan. Kehidupan dan perkembangan kehidupan manusia dan masyarakatnya senantiasa bergerak mengikuti keinginan perubahan itu sendiri. Pernyataan “sesungguhnya yang tetap ada dalam kehidupan manusia adalah perubahan itu sendiri” adalah benar adanya. Perubahan adalah tujuan dari kehidupan itu sendiri. Salah satu fenomena perubahan sosial yang terjadi adalah dengan beroperasinya perusahaan tambang Batu Hijau di Kabupaten Sumbawa Barat Provinsi Nusa Tenggara Barat. Eksplorasi tambang emas dan tembaga Batu Hijau dilakukan oleh PT. Newmont Nusa Tenggara dan memulai tahap persiapan dan konstruksi tambang di ahir dekade tahun sembilanpuluhan. Kegiatan penambangan yang dilakukan oleh PT. Newmont Nusa Tenggara (PT.NNT), di Kecamatan Jereweh Kabupaten Sumbawa termasuk katagori penambangan skala besar. Dengan demikian, berbagai aktivitas yang terkait dengan penambangan tersebut, mulai dari tahap persiapan dan konstruksi, terlebih lebih tahap produksi menimbulkan transformasi yang berimplikasi pada terjadinya perubahan sosial. Secara teoritis, perubahan sosial dapat bermuatan positif (konstruktif) dan negatif (destruktif). Kecenderungan perubahan sosial, baik yang konstruktif maupun destruktif anatara lain timbul karena terjadinya transformasi usaha dan  tenaga kerja, serta transformasi sosial budaya lainnya.

Tulisan di dalam buku ini menyajikan senarai konsepsi dan teori serta hasil penelitian panjang (longitudinal study) tentang perubahan sosial ekonomi dan budaya yang terjadi di daerah lingkar tambang Batu Hijau di Kabupaten Sumbawa Barat. Penelitian tersebut dilakukan mulai sejak selesainya tahap persiapan dan kotruksi tambang tahun 2000 dan dilakukan setiap tahun sampai berahirnya operasi PT. NNT tahun 2017. Untuk memberikan gambaran empiris perubahan sosial yang terjadi sebagai dampak beroperasinya perusahan tambang maka tuliodsan ini menyajikan hasil studi empiris pada 3 (tiga) momen, yaitu : ahir masa konstrudi/awal masa produksi (tahun 2000), masa setelah satu dekade masa produksi (tahun 2010) dan masa di ahir produksi tambang PT. NNT (tahun 2016). Penyajian tiga masa tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran perubahan sosial secara cepat yang terjadi di pedesaan daerah lingkar

Pada tahap persiapan kegiatan penambangan telah terjadi pembebasan tanah masyarakat dan tanah negara. Kegiatan pembebasan lahan tersebut menimbulkan perubahan orientasi, pola pekerjaan, dan perilaku masyarakat secara umum. Pada tahap konstruksi yang ditunjukkan dengan berkembangnya aktivitas pembangunan fisik prasarana jelas akan membuka kesempatan kerja dan peluang berusaha bagi sebagian masyarakat, baik masyarakat lokal maupun masyarakat dari daerah lain. Peluang berusaha tentu menjadi daya tarik datangnya pekerja dari luar dan tinggal berdomisili di lokasi sekitar kawasan penambangan.  Hal ini jelas akan menimbulkan proses asimilasi, akulturasi dan sejenisnya yang berdampak juga pada perubahan sosial masyarakat.  Dari penglaman yang ada, diketahui bahwa pada tahap konstruksi, jumlah serapan tenaga kerja paling banyak, baik tenaga kerja luar daerah maupun tenaga kerja lokal. Dengan demikian, arus perubahan sosial sesungguhnya dimulai dan meningkat pesat pada tahapan konstruksi tersebut.  Pada tahapan produksi, jumlah tenaga kerja secara komulatif menurun sejalan dengan berkurangnya peluang kerja yang tersedia. Namun demikian, kegiatan produksi tersebut tetap membawa dampak terhadap perubahan sosial masyarakat.

Newmont Nusa Tenggara (PT.NNT) sebagai pelaksana proyek penambangan di Kabupaten Sumbawa sejak awal telah mengantisipasi terjadinya perubahan sosial, terutama yang dinilai negatif khususnya oleh masyarakat lokal. Antisipasi tersebut antara lain dilakukan dengan jalan pembinaan kepada masyarakat setempat dengan melibatkan berbagai pihak seperti : Perguran Tinggi, Lembaga Swadaya Masayarakat (LSM) dan Pemerintah Daerah. Pembinaan tersebut diharapkan agar masyarakat setempat dapat menikamti dan memanfaatkan peluang ekonomi yang berkembang di kawasan penambangan tersebut.

Namun demikian, tidak semua kegiatan pembinaan tersebut dinilai berhasil atau menghasilkan perubahan sosial yang dinilai positif.  Persoalan yang terkait dengan perubahan kultural dinilai sebagai aspek perubahan yang sulit diprediksi dan dikendalikan secara baik.  Hal ini antara lain disebabkan karena aspek kultural terkait dengan aspek perilaku masyarakat secara umum.

Mudah-mudahan buku ini bisa menjadi bahan kajian perubahan sosial khususnya di daerah pedesaan atau setidaknya memberi gambaran proses transformasi ekonomi dan sosial budaya yang terjadi dengan hadirnya intervensi pembangunan diberbagai bidang.

Mataram, 28 Oktober 2022

 

ttd

 

Penulis

Scroll to Top